20 January 2010

Kualitas Dangdut Masa Kini




Tulisan ini di buat gara - gara teringat ama salah satu Orkes Top Jawa timur yang berasal dari kampung tetangga penulis, pada sekitar tahun 2002 pas bulan puasa lagi jalan jalan sore di taman kopmplek perumahan Delta Sari Baru Waru sidoarjo. Ada syuting video klip ndangdut, penyanyi lokal kayaknya. Atributnya mungkin sudah bisa sampeyan bayangkan, make up tebal, baju agak terbuka dan goyangan semi erotis. Karena syuting di tempat umum tanpa penjagaan padahal bulan puasa, dan juga di sela sela jeda syuting mereka para penyanyi seenaknya makan minum dan ngerokok pula berguman dalam hati "kok gak isin yo?", maka beberapa anak kecil nongkrong di situ tanpa berkedip, sementara yang dewasa termasuk saya melirik malu-malu dari kejauhan.

Fenomena semacam ini laksana gunung es yang semakin lama lama semakin mencair, liat saja kalo ada pertunjukan dangdut yang kalo ada saweraanya,apalagi di daerah pesisir semacam tangerang,pati,rembang.......hampir di pastikan bakal ramai di karenakan aksi aksi para vokalis yang mengundang birahi, tak ayal adu jotos tawuran kerap terjadi.

Rasa-rasanya dangdut yang sekarang nyaris tenggelam. Tanpa melupakan rasa hormat pada beberapa musisi dangdut (baik level kampung maupun level nasional) yang memang punya musikalitas tinggi, makin susah membedakan apakah ini pertunjukan musik dangdut atau live show sexy dancer.

Coba sampeyan cari-cari di youtube dengan keyword dangdut koplo atau dangdut sexy, akan sampeyan temukan banyak video-video yang membuat betah berlama-lama di depan komputer. juga pernah saya posting tengtang kumpulan penyanyi Hot di blog ini Bisa di lihat di 7 penyanyi paling hot. Nama-nama penyanyinya pun agak memprovokasi, macem Mela Barbie, Hesty Bohay, Mery Geboy, dan semacamnya. Komputer sampeyan ndak ada speakernya? Ndak masalah, wong kalo dikencengin suaranya malah sampeyan nanti malu sendiri, lebih banyak desahan daripada liriknya

Ndak penting lagi segala macem teori yang diajarkan sama Bertha di acara KDI-nya TPI. Koreografi pun ndak perlu bagus-bagus, buktinya dengan modal suara pas-pasan, ditambah headbanging ala Jason Newsted ex Metallica plus nunduk-nunduk jualan belahan dada sudah bisa membuat Trio Macan populer

Sebenarnya saya lihat musik dangdut masih mengalami perkembangan. Kalo dulu Roma Irama mengadopsi musik rock klasik yang membuat kita sering bertanya-tanya saat alunan gitar mengalun, “ini yang main gitar Bang Haji atau Ritchie Blackmore?”

Sekarang ada Rudysta yang sukses mengawinkan musik dangdut (sudah saya posting kemaren lagunya klik disini) dengan heavy metal, yang pengen liat bagaimana dahsyatnya band ini sampeyan bisa liat video klip Heboh-nya Nita Talia di youtube. Malah kalo sampeyan dengarkan interlude lagu Nita Talia yang judulnya Lepas Kontrol ndak beda jauh rasanya dengan menyimak Rising Force-nya Yngwie Malmsteen. Saya ndak bilang Nita Talia musikalitasnya tinggi lho ya, saya lagi mbahas Rudysta.

Mungkin balik lagi ke masalah dasar bagi manusia, urusan perut. Membuat musik bagus pun percuma kalo ndak laku dijual. Apa artinya idealisme saat perut kelaparan?

NB:Images di atas hanya sekedar ilustrasi tanpa bermaksud apa apa dan gambar di ambil dari:
http://www.sickplaylist.com/videos/dangdut

No comments:

Post a Comment

Kualitas Dangdut Masa Kini




Tulisan ini di buat gara - gara teringat ama salah satu Orkes Top Jawa timur yang berasal dari kampung tetangga penulis, pada sekitar tahun 2002 pas bulan puasa lagi jalan jalan sore di taman kopmplek perumahan Delta Sari Baru Waru sidoarjo. Ada syuting video klip ndangdut, penyanyi lokal kayaknya. Atributnya mungkin sudah bisa sampeyan bayangkan, make up tebal, baju agak terbuka dan goyangan semi erotis. Karena syuting di tempat umum tanpa penjagaan padahal bulan puasa, dan juga di sela sela jeda syuting mereka para penyanyi seenaknya makan minum dan ngerokok pula berguman dalam hati "kok gak isin yo?", maka beberapa anak kecil nongkrong di situ tanpa berkedip, sementara yang dewasa termasuk saya melirik malu-malu dari kejauhan.

Fenomena semacam ini laksana gunung es yang semakin lama lama semakin mencair, liat saja kalo ada pertunjukan dangdut yang kalo ada saweraanya,apalagi di daerah pesisir semacam tangerang,pati,rembang.......hampir di pastikan bakal ramai di karenakan aksi aksi para vokalis yang mengundang birahi, tak ayal adu jotos tawuran kerap terjadi.

Rasa-rasanya dangdut yang sekarang nyaris tenggelam. Tanpa melupakan rasa hormat pada beberapa musisi dangdut (baik level kampung maupun level nasional) yang memang punya musikalitas tinggi, makin susah membedakan apakah ini pertunjukan musik dangdut atau live show sexy dancer.

Coba sampeyan cari-cari di youtube dengan keyword dangdut koplo atau dangdut sexy, akan sampeyan temukan banyak video-video yang membuat betah berlama-lama di depan komputer. juga pernah saya posting tengtang kumpulan penyanyi Hot di blog ini Bisa di lihat di 7 penyanyi paling hot. Nama-nama penyanyinya pun agak memprovokasi, macem Mela Barbie, Hesty Bohay, Mery Geboy, dan semacamnya. Komputer sampeyan ndak ada speakernya? Ndak masalah, wong kalo dikencengin suaranya malah sampeyan nanti malu sendiri, lebih banyak desahan daripada liriknya

Ndak penting lagi segala macem teori yang diajarkan sama Bertha di acara KDI-nya TPI. Koreografi pun ndak perlu bagus-bagus, buktinya dengan modal suara pas-pasan, ditambah headbanging ala Jason Newsted ex Metallica plus nunduk-nunduk jualan belahan dada sudah bisa membuat Trio Macan populer

Sebenarnya saya lihat musik dangdut masih mengalami perkembangan. Kalo dulu Roma Irama mengadopsi musik rock klasik yang membuat kita sering bertanya-tanya saat alunan gitar mengalun, “ini yang main gitar Bang Haji atau Ritchie Blackmore?”

Sekarang ada Rudysta yang sukses mengawinkan musik dangdut (sudah saya posting kemaren lagunya klik disini) dengan heavy metal, yang pengen liat bagaimana dahsyatnya band ini sampeyan bisa liat video klip Heboh-nya Nita Talia di youtube. Malah kalo sampeyan dengarkan interlude lagu Nita Talia yang judulnya Lepas Kontrol ndak beda jauh rasanya dengan menyimak Rising Force-nya Yngwie Malmsteen. Saya ndak bilang Nita Talia musikalitasnya tinggi lho ya, saya lagi mbahas Rudysta.

Mungkin balik lagi ke masalah dasar bagi manusia, urusan perut. Membuat musik bagus pun percuma kalo ndak laku dijual. Apa artinya idealisme saat perut kelaparan?

NB:Images di atas hanya sekedar ilustrasi tanpa bermaksud apa apa dan gambar di ambil dari:
http://www.sickplaylist.com/videos/dangdut

No comments:

Post a Comment